Surabaya Itu Kota Seni Kan?

Beberapa waktu lalu saya baru saja datang ke ArtJog10 yang diadakan anak-anak ISI Jogja di Taman Budaya, kota Jogja. Haha, jujur saja, ini pameran instalasi pertama yang saya datangi. Karena saya suka dengan pamerannya, maka saya merekomendasikan acara ini ke teman-teman kuliah saya yang sedang berlibur di Jogja. Dan dari sebuah ajakan, kami pun mengobrol singkat tentang acara-acara seni seperti ArtJog di kota saya, Surabaya.

Secara tidak mengejutkan, kami membicarakan fakta bahwa Surabaya kekurangan tempat-tempat seperti Taman Budaya atau galeri-galeri untuk tempat mengapresiasi karya-karya seniman Surabaya. Sebenarnya ini topik yang sudah sangat lama dibahas oleh saya dan beberapa teman Greenmap saya. Waktu itu kami sempat berencana membuat Peta Hijau yang menampilkan tempat-tempat berkesenian di Surabaya. Lalu…akhirnya kami sadar kalau tempat-tempat seperti itu ternyata susah ditemukan di Surabaya. Silahkan tanya ke orang-orang Surabaya. Tanyakan, dimana ya tempat yang biasanya dipakai buat acara seni? Jawabannya, kalau bukan Gedung Cak Durasim ya Gedung Balai Pemuda. Dan beberapa orang saja yang akan menambahkan galeri House Of Sampoerna dalam daftarnya.

Mungkin saya yang kuper, atau memang belum cukup tersedia galeri-galeri seni di Surabaya yang mampu menampung dan mengadakan art exhibition, art performance dan sejenisnya. Sedikit ironis, karena banyak senior saya yang merancang galeri-galeri seni di Surabaya sebagai karya tugas akhirnya.

Ini membuat saya penasaran. Apa ini karena saking rendahnya apresiasi masyarakat Surabaya terhadap kesenian? Ah, saya rasa tidak juga. Lalu apa? Atau jangan-jangan karena warga Surabaya lebih suka mengapresiasi jendela toko di mall? Ahhh…

Kampung Tidak Berarti Miskin, Sayang.

Ini lanjutan dari tulisan saya sebelumnya. Kalau sebelumnya tentang “diskriminasi”, maka yang ini tentang kampung. Tulisan ini pun bersumber dari diskusi yang menghasilkan tuduhan bahwa saya ini diskriminatif. Beberapa hari lalu, saya sedang berdiskusi dengan seseorang. Dia menuduh saya sangat diskriminatif. Dia bilang, “Kamu selalu membahas dan membicarakan tentang Kampung. Selalu saja rumah orang miskin yang kamu bahas. Kamu mendiskriminasi orang berduit!”

Oke. Disini ada satu poin yang saya anggap salah. Dikatakan bahwa saya sukanya membahas kampung, lalu dari kampung tersebut, orang ini melanjutkan dengan “selalu saja orang miskin yang kamu bahas”. Nah, ini dia poin yang saya sebut tidak tepat!

Selama ini, kampung identik dengan kemiskinan, bahkan kekumuhan. Anggapan ini tidak adil, kalau saja orang-orang mau tahu bagaimana keadaan kampung-kampung di kotanya. Memang benar kalau dikatakan ada kampung yang kumuh dengan penduduk berekonomi sulit didalamnya. Namun nyatanya, banyak kampung yang bersih, asri dan kegiatan ekonominya tinggi. Mau lihat kampung asri dan bersih? Jalan-jalan saja ke kampung-kampung di Surabaya, Kampung Gundi dan Peneleh misalnya. Mau lihat kampung yang tingkat kegiatan ekonominya tinggi? Silahkan berbelanja di Kampung Laweyan atau Kauman di Solo. Atau justru mau wisata bangunan tua? Kampung Bubutan di Surabaya salah satu contohnya. Atau mau belajar tentang kebudayaan khas daerah?  Kampung-kampung Betawi di Jakarta adalah salah satu contoh dari banyak kampung-kampung di kota-kota Indonesia yang memiliki kelebihan tersebut.

Seperti yang saya ambil dari buku The Challenge Of Slum: Global Report Of Human Settlement dari UN-HABITAT, “Kampung”, secara kasar bisa saja disebut “desa”, yang maksudnya adalah suatu kawasan bermukim yang miskin (poorer than any area) dalam sebuah kota. Tetapi kampung tidak dapat disamaartikan dengan “kumuh” (slum). Terlebih komposisi penduduk di dalamnya adalah kalangan ekonomi kelas bawah DAN menengah. Mayoritas bangunan dalam kampung pun dibangun permanen. Secara singkat, dapat dikatakan bahwa kampung adalah “desa asal” atau CIKAL BAKAL tumbuhnya perkotaan, dan susah untuk dikatakan sebaliknya.
Well, ungkapan “poorer than any area” langsung disanggah oleh teman-teman diskusi saya!
Memang, ada beberapa pakar yang menyebutkan bahwa kampung itu termasuk slum, bahkan squatter. Dan seperti yang saya sebut di atas, memang masih banyak kampung-kampung kumuh, yang tidak sesuai standar layak dan higienis. Tetapi saat ini sudah banyak kampung-kampung kota yang mulai membenahi dirinya, paling tidak hal ini terjadi di kotaku, Surabaya.

Tapi, merujuk pada pernyataan yang saya tulis di paragraf paling atas mengenai kesukaan saya membahas Kampung, sebenarnya bukan karena kondisi ekonomi masyarakatnya yang membuat saya tertarik dengan kampung. Tapi BUDAYA nya. KARAKTER kampung tersebut. Saya tertarik dengan bagaimana cara kampung-kampung di perkotaan mampu membentuk karakter kota itu sendiri. Sayangnya, masih banyak kota-kota di Indonesia yang belum tertarik untuk “menggarap” potensi-potensi yang ada di kampung-kampung kotanya. Padahal, tiap kampung pasti memiliki sebuah kelebihan, kelebihan yang lahir dari karakter masyarakat kampung itu. Ya seperti yang saya tulis tadi, ada kampung batik, kampung betawi, kampung heritage dan lalala. Banyak! Saat ini di Surabaya pun mulai muncul kampung-kampung yang mengenalkan diri dengan spesialisasi masyarakatnya. Seperti Kampung Lontong, Kampung Adenium dan yang lainnya.

Jadi, bagaimana? Apakah tulisan ini sudah membuatmu penasaran dengan kampung-kampung di kotamu? Saran saya cuma satu…ayo turun! Ayo turun lalu berjalan-jalan ke kampung-kampung kota mu. Kalau sudah, bagi ceritamu dengan saya!

*Sebenarnya ada satu pertanyaan ‘mengesalkan’ dari dosen saya . Beliau bertanya, “Kalian bicara kampung melulu. Mau nggak tinggal di kampung?”. Jawaban saya, mengapa tidak? ;D

Jangan Singkirkan Yang Punya Duit (untuk berarsitektur dengan benar).

Beberapa hari lalu, saya sedang berdiskusi dengan seseorang. Dia menuduh saya sangat diskriminatif. Dia bilang, “Kamu selalu membahas dan membicarakan tentang Kampung. Selalu saja rumah orang miskin yang kamu bahas. Kamu mendiskriminasi orang berduit!”

Well, saya geram bukan main saat itu. Apalagi ada satu poin yang salah tentang ucapannya.
Tapi saya suka, karena dia akhirnya memberi perspektif baru bagi saya. Dalam pikiran seseorang itu, jangan cuma orang miskin saja yang dipikirkan. Orang berduit juga harus dipikirkan. Bukan karena mereka harus dimanja, tetapi karena seringkali orang berduit membangun arsitektur tanpa memikirkan lingkungannya. Makanya, mereka harus diberitahu dan disadarkan supaya berlaku membangun yang benar dan responsif terhadap lingkungan.

Dan lingkungan itu sendiri, mampu bercerita macam-macam. Mulai dari cerita tentang lingkungan alam, lingkungan berbudaya, lingkungan berekonomi. Banyak, masih banyak.

Sedikit cerita, awal rasa penasaran saya tentang kehidupan berarsitektur masyarakat berekonomi rendah adalah karena imajinasi saya tentang sebuah waktu dimana masyarakat berkantong kempis tanpa sungkan keluar-masuk kantor-kantor konsultan untuk dibantu oleh para arsitek membangun kehidupannya. Intinya, menghilangkan gambaran bahwa arsitek hanya untuk yang punya duit. Sesederhana itu.

Lambat laun, cerita tentang kaum mayoritas di tanah air ini semakin kompleks masuk ke kepala saya. Boro-boro membangun sebuah rumah yang layak, tanah yang layak dan legal pun tidak semua memilikinya. Boro-boro rumah yang layak, air jernih pun tidak semua menikmatinya. Mereka bahkan dianggap penyumbang kekumuhan yang membuat kemegahan sebuah kota menjadi rusak. It isn’t fair, pikir saya. Sejak saat itu, secara naif saya lebih tertarik untuk berdiskusi mengenai kehidupan berarsitektur kaum yang seringkali disebut MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) ini dibanding berdiskusi dan mengagumi kehebatan karya Gehry atau Calatrava. Saya menganggap cerita tentang mereka berdua tidak (atau belum?) real untuk negara kita.

Oh ya, sampai detik ini, saya belum membicarakan mengenai Kampung (yang saya singgung sedikit di atas), karena itu akan masuk dalam pembicaraan dengan topik yang benar-benar berbeda.

Dan lalu saya bertemu orang ini. Saya selalu menganggap orang ini adalah tipikal arsitek yang berorientasi pada kemegahan desain. Desain yang mencengangkan, modern, canggih. Mahal.
Wow, sampai pada akhirnya saya harus minta maaf berjuta maaf padanya…
Ternyata pikirannya jauh berbeda seperti apa yang saya bayangkan. Meskipun, ya, dia mampu menciptakan rancangan yang mencengangkan. Tapi dari dia pikiran saya akhirnya terbuka lebih lebar dan seperti melengkapi sebuah puzzle yang tidak saya sadari. Ya, seperti yang saya sebut diatas. Jangan mendiskriminasi! Orang berduit juga perlu dipikirkan. Sebagai (calon, ehem) arsitek, harusnya kita bisa menegaskan ke orang-orang itu kalau saat kita membangun, bukan cuma bangunan dan keyamanan mereka saja yang dipikirkan. Lihat juga keadaan sekitar. Jangan sampai bangunan terancang itu akan merubah kehidupan sosial masyarakat. Merubah perilaku budaya, merubah kegiatan ekonomi, merubah menjadi negatif.

Bukan berarti si arsitek tidak bisa merancang bangunan spektakuler seperti punya Hadid. Bisa saja kan bermain-main unsur arsitektural seperti material bangunan untuk menciptakan sesuatu yang asik. Ini menuntut pengetahuan dan kreatifitas kita, bagaimana “bermain” arsitektur yang kreatif dan tidak merugikan lingkungan. Dan sejauh ini sepetinya sudah banyak arsitek Indonesia dan penikmat jasa arsitek yang paham. Meskipun yang berarsitektur secara serampangan juga masih terlihat dimana-mana.

WOW, saya benar-benar harus belajar banyaaak!

Karena seperti kata orang-orang, arsitek itu perencana. Rencana itu baik atau justru buruk bagi lingkungan, hanya arsitek yang mampu menentukan.

*Dan saya menyesal. Tugas-tugas perancangan saya selama ini masih saja diwarnai kegilaan akan desain yang bagus dan nyaman HANYA bagi penggunanya.
Istilahnya, masih memikirkan sebuah dunia kecil saja. Semoga saja dua tugas perancangan saya berikutnya bisa lebih serius. (“Serius”? Emang selama ini nggak serius Tar??? Hehehe!)
Oh ya, tentang Kampung akan ada tulisan tersendiri. =D

Gadis Fiksi

gadis fiksi

Gadis Fiksi, sang Alice yang tersesat.

Yap yap, biarpun film Fiksi menang di FFI 2008, nyatanya saya baru nonton 2 tahun kemudian! Haha, thanks to Rendi for the dvd.

Saya cuma sekali nonton film ini, tapi efeknya berminggu-minggu. Haha, karena saya suka sekali melihat penampilan Ladya Cheryl (as a psycho girl named Alisha) yang terlihat manis dengan poni dan rambut panjang gelombang, ditambah baju-baju yang cantik! Nah, poin terakhir ini yang bikin saya sukaaa film ini. Selesai nonton, semua gambar-gambar yang saya buat selalu menampilkan seorang cewek berponi, rambut gelombang dan memakai baju-baju yang super manis.

Seperti sketsa-sketsa di atas. Sketsa pertama (yang paling atas), memang benar-benar sketsa pertama yang saya buat setelah nonton film Fiksi. Haha, saya suka lihat kaus hitam yang dipakai Alisha. Tentang sketsa kedua, nah, ini gara-gara saya sukaaa lihat baju tidur yang Alisha pakai saat adegan dia ‘dikunjungi’ ibunya. Gaun tidurnya terlihat cantik dan klasik. Dan di sketsa ini gaun tidurnya saya buat ekstrem…haha. Ruffles everywhere and puffy with crazy cut. ;D

“Saya cuma bercanda, jangan dibuat drama”. Well, this is my favourite quote from Fiksi. =)

Neon Cotton

taraderia.wordpress.com

neon cotton

Ilustrasi ini hasil dari telinga saya yang berkencan semalaman dengan Goodnight Electric di kamar, dan diselesaikan di kelas apresiasi arsitektur (kelas mata kuliah pilihan yang sepertinya saya salah pilih…) saking bingungnya saya di dalam kelas. ;D

PS: thanks to Dhani for the paper! Haha, stupid me. I lost my sketchbook. Darn.

Jengki! Sebuah Kebebasan Berarsitektur di Era Modern Indonesia.

Jengki, jengki, jengki, dan jengki. Beberapa hari ini, hari-hari saya memang tidak jauh dari membicarakan jengki dengan teman-teman kuliah saya. Kebetulan, karena kami mendapat kesempatan menemani seorang India dari Skotlandia yang datang ke Indonesia untuk meneliti (lebih tepatnya, memotret, karena dia seorang fotografer) karya-karya arsitektur bergaya jengki. Kami, para mahasiswa yang saya anggap ‘terjebak di masa lalu’ (karena begitu senang menikmati bangunan tua) sudah jelas semangat sekali menemani tamu kami berkeliling Surabaya dengan cuacanya yang ekstrem.

Sebelum kami berangkat, kami asik ngobrol tanpa tujuan tentang rumah gaya jengki ini. Ternyata, banyak juga teman-teman mahasiswa arsitektur yang tidak tahu apa itu arsitektur jengki. Okay, so here’s a very brief explanation about jengki, guys! Singkatnya, arsitektur jengki adalah contoh langgam modern yang ada di Indonesia sekitar tahun 1945-1960an. Gaya ini sangat unik dan khas karena keberanian dan ‘kegilaan’nya lewat permainan bentukan-bentukan geometris yang mengejutkan. Bahkan ada teman saya yang jika ditanya apa itu arsitektur jengki, dia akan menjawab: rumah miring! Karena memang begitu adanya.

Selama ini, di saat saya blusukan kampung-kampung dan gang-gang kota Surabaya dengan teman-teman, memang banyak kami menemukan rumah-rumah tinggal bergaya jengki. Ada yang berukuran besar dan di pinggir jalan, ada pula yang kecil dan terletak di tengah perkampungan padat. Dan mereka memang memiliki kesamaan yang sama. Mencolok! Apalagi bila si jengki ini tepat bertetangga dengan bangunan kolonial belanda. Yang satu tampak kalem dan polos dan mungkin dengan sedikit pilar atau tiang-tiang, sedangkan satunya seakan-akan ingin mendobrak kekaleman tersebut dengan atap yang miring (kadang terkesan menghujam), jendela segitiga (bahkan abstrak!), cladding stone wall (sebagai fokus) dan ‘kelancipan-kelancipan’ lain yang unik dan nyeleneh. Seperti yang saya ingat dari penjelasan Pak Joseph Prijotomo, dosen saya, arsitektur jengki seakan-akan ingin lari, ingin lepas, ingin bebas dari segala sesuatu yang berbau Dutch. Yang berbau Belanda. Asal itu bukan ‘londo’, maka dipakailah.

Saya pernah diberi tahu sebelumnya, kalau asal-usul kata ‘jengki’ pada arsitektur jengki mengacu pada kata ‘yankee’, yang maksudnya adalah orang amerika. Sesaat saya menangkap kalau arsitektur jengki rupanya dipengaruhi oleh arsitektur bergaya amerika, meskipun entah saya tidak tahu seperti apa american style itu. Ternyata oh ternyata, penggunaan kata ‘jengki’ lebih dikarenakan karena situasi masyarakat Indonesia kala itu yang banyak menggunakan kata ‘jengki’ pada segala sesuatu yang baru, sesuatu yang mereka anggap modern. Makanya, di era modern saat itu ada yang disebut sepeda jengki, celana jengki dan pada akhirnya rumah jengki karena bangunan ini dianggap sangat modern dan berbeda di saat itu. Jadi, arsitektur jengki dapat dikatakan murni arsitektur milik Indonesia (dan mungkin juga beberapa negara sekitarnya) tanpa embel-embel pengaruh arsitektur barat.

Sejujurnya, tiap kali saya melihat rumah ataupun bangunan lain yang bergaya jengki, saya selalu heran dan merasa aneh. Bentuk-bentuk yang ada pada mereka, menurut saya, sungguh masa kini. Masa kini yang sudah dipakai setengah abad lalu. Dan pada akhirnya gaya itu sebenarnya berulang kembali saat ini, hanya saja dalam kemasan berbeda sehingga sesuai dengan era post-modern.

Tetapi, memang benar jika arsitektur jengki dikatakan sebagai arsitektur kebebasan. Secara tidak langsung kita dapat merasakan keinginan untuk ‘berontak’ dari apa yang terkesan mengikat dan mengungkung. Kreatifitas sang arsitek seakan-akan tidak dibatasi dan dibiarkan liar bermain untuk menciptakan sebuah karya seni yang baru dan berbeda. Kita boleh bangga karena sejarah arsitektur Indonesia pernah diwarnai dengan gaya arsitektur yang begitu berkarakter, walaupun tidak lama.

Dan…semoga spirit jengki dapat memacu kita untuk ‘bermain-main arsitektur’ sampai datanglah karya yang mampu mendobrak keseragaman, keseragaman yang berujung kebosanan.

Rumah jengki yang ada di daerah Ampel, Surabaya. Ini salah satu contoh desain jengki yang benar-benar nyeleneh. Lihat saja lekukan 'S' dan bentuk jendelanya.

Pintu gerbang Stadion Semen Gresik, yang pada awalnya saya pikir kalau itu adalah shelter.

smells good...!

Haha, saya menemukan kembali kebiasaan saya waktu kecil. Pakai daun atau bunga yang dipetik buat jadi pembatas buku saya.

It feels so great when I finished the book then the leaf become dried, coz it just pretty when it turn browny. And I found some leaves come dried with a bit of red. Well, for me, I called it pretty. =)

Anyway, coba tebak, buku apa yang lagi kubaca di foto atas? ;D

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.